Weekend – 31 January 2016 (diary)

Hari Sabtu – Minggu itu biasanya diisi kebanyakan orang dengan acara keluarga, ketemuan sama temen, shopping ke mall, makan, nonton, olah raga, atau santai di rumah.

Nah buat saya… hem.. sama juga sih, cuma bedanya itu, SETIAP SABTU saya pergi ke mall yang sama, jam yang sama, tempat makan yang sama, dan melakukan kegiatan yang sama, dengan orang-orang yang sama, selama TIGA TAHUN! Yaaa.. pernah bolong beberapa kali sih, itu pun kalau memang gak bisa atau pas lagi melampui titik jenuh.

Kegiatan ini berawal sejak papa mertua sakit parah, kemudian sembuh, tapi beliau kesulitan untuk cuci rambut sendiri, karena tangannya kaku. Jadi setiap Sabtu beliau harus cuci rambut ke salon yang ada di mall. Nah, sejak itu lah, setiap sabtu siang, saya + suami + papa mertua pergi ke mall itu. Kadang ada sedikit kombinasi ditambah mama mertua, atau anak-anak kalau mereka lagi gak ada acara sendiri.

Ternyata bukan cuma sekedar ke salon, kita kudu makan siang dulu. Dan, karena menurut suami saya, dia adalah orang yang setia, seperti papanya yang lebih setia lagi, maka pilih rumah makan juga selalu di tempat yang sama, dengan menu yg sama, dan minum yang sama. Sampai kita gak perlu susah-susah jelasin ke kasir / waiter nya, karena mereka seringnya udah tau apa yang mau kita pesan.
Kita hanya sekali-kali berubah tempat makan kalau tempat makannya akhirnya tutup (udah kejadian) atau papa lagi gak enak badan sehingga pantang beberapa makanan. Itu pun pilihannya cuma 1-2 resto lainnya, tentu nantinya di sana dengan menu yang selalu sama juga.

Beres makan, papa akan ke salon langganan, dilayani kapster langganannya, yaitu orang yang selalu sama, dan, saya+suami akan menunggu sambil duduk di sebuah cafe, yang… tentu sama juga setiap sabtu, dan pasti suami saya pesan minuman yang sama juga.

Beres dari salon, papa akan beli kue/roti untuk dibawa pulang, buat cucu-cucunya, dan biasanya kuenya juga sama setiap sabtu. Kemudian beliau akan ke supermarket untuk belanja beberapa barang dan makanan, yang umumnya sama juga , atau ya.. ada sedikit kombinasi lah.

Teman-teman saya suka takjub denger cerita saya, komen mereka pasti “gak bosen loe?”.

Secara saya adalah orang yang anti monoton, maka wajar aja kalo saya “memberontak” atau “mogok” gak mau ikutan lagi, atau ngomel-ngomel ke suami saya, atau berlagak sok cuek buat gak ikutan. Toh sebetulnya saya gak berkewajiban buat nemenin. Tapi, saya memilih buat menikmati hal tersebut, walau ada waktu-waktu dimana rasanya badan berat banget buat berangkat, “Mager” kalo istilah jaman sekarang.

Alasan utama yang bikin saya terus mau menemani adalah saya lihat kalo ini adalah salah satu bakti suami saya ke orang tuanya. Walau dia sendiri cape banget setelah kerja sepanjang minggu, dan perlu “me time” buat istirahat atau refreshing, tp dia tetap bersedia menemani papanya. Dan itu perlu dukungan dari saya. Kebayang kalo saya gak menemani, belum tentu dia sanggup buat terus melakoni kegiatan ini.

Saya juga lihat kalo orang tua kami senang sekali kalo ditemani, dia bisa terus ngomong dan cerita macam-macam, walau kadang berulang-ulang, tapi hal ini lah yang membuat mereka jadi tetap sehat. Karena hati yang gembira adalah obat yang manjur kan?

Anak-anak juga kita ajar, untuk selalu ikut setiap mereka gak punya acara, karena ditemani cucu-cucu akan bikin kebahagiaan orang tua naik berlipat ganda.

Btw, rutinitas ini blm selesai di hari Sabtu saja, berlanjut ke Hari Minggu siang, dimana saya sekeluarga wajib berkumpul kembali dengan papa mama mertua, plus keluarga adik ipar saya, untuk kembali makan bersama di rumah makan, yang… kembali pilihannya seputar A, B, atau C hehehe. Dan, kegiatan yang satu ini sudah berlangsung sejak saya menikah dengan suami saya. BELASAN TAHUN sampe sekarang, dan jarang sekali bolongnya.

Entah sampai kapan rutinitas ini berlangsung, tapi saya berharap hal ini bisa berlangsung lama, orang tua kami diberikan umur panjang dan kesehatan.

Kalau sampai saya merasa lelah, maka saya menyatakan kepada diri saya, kalau ini adalah pelayanan saya untuk Tuhan. Dan Kalau saya merasa gak punya alasan untuk tetap ikut, maka saya berpikir, kalau ini adalah salah satu bentuk terima kasih saya buat papa mama mertua, karena telah melahirkan dan membesarkan anaknya yang sekarang jadi suami saya yang luar biasa.

 

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cinta yang Egois?

Q : Auntie, kenapa ya saat dia jadi milikku, tapi aku malah mengabaikannya dan seakan-akan ingin ngelepasnya & setelah dia udah bukan milikku, aku ingin

Read More »