Terlambat – 20 Maret 2016 ( diary )

Hari ini, Pagi-pagi jam 06.00 anak perempuan saya telepon. Hari ini saya sedang ada di luar kota bersama suami karena urusan pekerjaan. Anak saya bilang kalau supir belum datang dan gak bisa dikontak. Waduh, kalau sudah gini, biasanya mode panik langsung on. Akhirnya supir saya telepon jam 06.05, katanya telat bangun. Anak saya sudah bete, karena kalau hari ini terlambat artinya dia diskors dan semua ulangan hari itu jadi nol. Jam 06.15 supir saya nongol di rumah, dan langsung tancap gas ke sekolah. Saya sih sudah pasrah kalo terlambat ya sudahlah. Tapi kemudian anak saya kontak lagi, katanya gak terlambat karena jam 06.24 sudah sampai sekolah. Sebenernya ini antara lega tapi juga jadinya was-was, 9 menit ke sekolah dari rumah yang biasanya paling cepat itu 15 menit, artinya supir saya ngebut gila-gilaan, gimana caranya bisa secepat itu sampai? Bahaya sekali kan?

Kata terlambat ini sepertinya sudah jadi hal yang lazim di Indonesia. Apapun bisa terlambat. Dan kelihatannya orang-orang sudah kebal, dan jadi biasa aja kalo terlambat. Padahal sebetulnya, cuma gara-gara terlambat ini, akibat dan efeknya itu bisa berkelanjutan dan hal kecil bisa jadi besar. Saya dibiasakan dari kecil oleh keluarga saya, untuk tidak pernah terlambat. Papa mama saya adalah orang yang sangat tepat waktu, bukan tepat sih, seringnya mereka selalu duluan dibanding orang lain. Katanya lebih baik menunggu daripada terlambat. Selama saya sekolah dari playgroup sampai kuliah, hanya tercatat pernah 1x saja terlambat waktu kelas 1 SMA. Cuma setelah menikah, saya mulai sedikit jadi lebih sering terlambat, karena menyesuaikan diri dengan budaya keluarga suami saya yang memang lebih baik ditunggu daripada menunggu katanya, hahahaha.

Pernah suatu kali, anak saya terlambat sekolah juga. Kali ini gara-gara kesalahan konyol saya. Jadi waktu semua sudah siap seperti biasa, dan mau berangkat ke sekolah, pas saya ke garasi, ternyata mobilnya gak ada! Saya lupa kalau pagi itu gak ada mobil karena suami bawa mobil keluar kota. OMG! Kali ini panik beneran, karena anak saya yang kelas 10 sedang Ujian Tengah Semester. Saya langsung panggil UBER tapi not available, gak tau kenapa, mungkin kepagian. Lalu saya segera booking taxi via telepon, dan setelah nungguin di luar pagar rumah sambil stres berat, sambil terus-terusan telepon lagi ke taxinya kenapa belum sampai-sampai, akhirnya setelah 20 menit kemudian taxi sampai, dan…sudah terlambat. Huaaaahhhh! Akhirnya anak saya memutuskan untuk gak ke sekolah, berhubung terlambat dan percuma karena dia akan di-skors dan gak bisa ikut ujian.

Terus gimana dong dengan ujiannya? Ini yang kemudian jadi masalah baru akibat terlambat. Anak saya bingung harus bikin surat bagaimana ke sekolah. Solusi paling gampang adalah, bikin surat sakit. Kalau tidak masuk sekolah dan tidak ikut ujian karena sakit, maka diperkenankan untuk ikut ujian susulan. Beres, tapi, artinya itu bohong.

Di keluarga , kami selalu menanamkan nilai kejujuran sebagai nilai yang tinggi. Setiap ada pembantu baru yang masuk, no 1 yang saya katakan pada mereka adalah tentang kejujuran. Kerajinan, kesetiaan, dll itu selanjutnya. Nah, dihadapkan pada situasi seperti ini, merupakan ujian kejujuran buat anak saya. Kalau dia bohong dengan berkata sakit, maka urusan ujian akan beres. Tapi kemudian saya jelaskan dampaknya kalau dia bohong. Artinya dia bukan cuma harus berbohong pada pihak sekolah, tapi dia juga harus bohong pada semua teman-temannya. Berarti nanti kalau dia ke sekolah, dan ketemu teman-teman, akan selalu ada perasaan gak enak, apalagi kalau teman-teman dan guru memberi perhatian dengan menanyakan apakah sudah sembuh?

Lucunya waktu anak saya bingung masalah ini, dan dia cerita ke beberapa teman dekatnya, hampir semua menyarankan untuk bohong saja. Sudah biasa katanya, kalau terlambat, gak usah sekolah, dan bikin aja surat sakit. Dan kalau sekolah tahu juga, mereka biasanya maklum. Lalu anak saya bertanya kepada guru yang cukup dekat dengan dia, buat menanyakan kemungkinannya kalau dia menceritakan peristiwa yang terjadi. Menurut pendapat guru, akan jadi ribet, lebih baik bilang saja sakit. Nah lho…

Saya tanya, kalau kita berkata jujur pada pihak sekolah, apa konsekuensi terburuk? Konsekuensinya gak boleh ikut susulan dan nilai UTS jadi nol. Ya udah deh, kalo konsekuensinya “cuma” itu, gak apa-apa kan? Paling total nilainya jadi turun aja. Anak saya setuju juga untungnya. Dan besoknya dia memutuskan untuk menghadap ke sekolah untuk menceritakan kejadian sebenarnya. Saya tanya dia, apa perlu ditemenin mama? Dia bilang, gak usah. Akhirnya setelah dia cerita semua, sekolah hanya meminta saya sebagai ortunya membuat surat yang isinya cerita lengkap kejadian hari itu. Dengan senang hati saya tulis deh, seperti nulis blog ini. Dan akhirnya , dia dijinkan ikut susulan. Problem solved.

Nah, sebetulnya yang mau saya bilang di sini adalah, gara-gara terlambat, baik karena kesalahan kita sendiri atau kesalahan orang lain, sebetulnya dampaknya itu bisa jadi panjang. Kalau kita gak menyikapinya dengan tepat, maka bisa-bisa hal kecil jadi besar. Banyak orang menyikapinya dengan marah-marah, bohong, cari 1000 alasan, dll. Padahal cara paling simple itu adalah minta maaf, mengakui kesalahan kita kalau memang ada, menceritakan dengan jelas kejadian yang terjadi, lalu selanjutnya coba dicari solusi dengan pikiran yang tenang. Memang tentu ada resikonya, bisa aja orang lain jadi marah ke kita, atau kita jadi menerima hukuman, atau bahkan kita akan menerima kerugian jangka panjang. Tapi saya tetap percaya sih, kalau kita melakukan hal yang benar, kita sudah ada di jalan yang benar, dan pada akhirnya seharusnya kita menerima hal yang baik juga.

Kalau mau dibahas lebih dalam lagi mengenai TERLAMBAT ini, mungkin ada banyak “terlambat” yang sesungguhnya engga kita sadari. Misalnya terlambat meminta maaf kepada orang  yang pernah kita rugikan atau sakiti, terlambat menyatakan rasa  cinta  kepada orang yang kita kasihi, terlambat mengatakan terima kasih kepada orang yang pernah berjasa kepada kita, terlambat memberi perhatian kepada orang yang sesungguhnya butuh perhatian kita, terlambat membuat keputusan waktu ada kesempatan lewat, dst. dst. Dan kemudian pada akhirnya waktu kita menyadarinya, baru kita menyesal dan berkata “Terlambat”

Jadi intinya, sepanjang yang bisa saya pikirkan, terlambat itu bukanlah hal yang baik. Jangan sampai kita jadi orang yang akhirnya terbiasa dengan kata terlambat ini. Mungkin banyak orang yang menganggap kecil akibat dari keterlambatan ini, tapi kalau kita renungkan lebih dalam lagi, sebetulnya ini adalah sesuatu yang penting, yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Secara pribadi kita harus mulai terus membiasakan diri untuk tidak terlambat dalam hal apapun. Selanjutnya kita juga perlu menanamkan dan terus membiasakan anak-anak kita, untuk menjadi orang yang tidak terlambat. Terus terang, saya pun masih terus berusaha dan berlatih hal ini, walaupun masih juga sering gagal.

Akhir kata, kita sering mendengar pepatah “Better LATE than NEVER”. Jadi setelah membaca tulisan saya di atas, kalau kita sadar ada hal yang belum kita lakukan, dan sepertinya sudah terlambat, jangan berkecil hati. Kalau memang hal itu masih bisa lakukan, maka lakukan saja, walau sudah terlambat. Tapi saya tetap lebih setuju dengan “NEVER LATE is BETTER” :-).

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Burung di atas kepala

Tadi pagi sebelum berangkat ke kantor, tiba-tiba suami saya ngomong “Tau gak, kalo kita gak bisa melarang burung hinggap di kepala kita?” Hmmm…mau ngomong apa nih

Read More »