One Day with Philip Triatna and Julie Tane – 22 Februari 2016 (diary)

Hari ini (very late post actually), hampir 1 harian saya habiskan waktu bersama salah satu rekan baik saya dan suami yaitu Philip Triatna dan istrinya Julie Tane, yang sengaja datang dari Jakarta khusus untuk ketemuan dengan kami, what an honor bro and sis!

Philip adalah seorang penulis, trainer dan motivator, sedangkan Julie selain penulis, beliau juga pandai sekali melukis, atau tepatnya saya sebut dia kartunis handal. Sudah banyak karya yang mereka hasilkan antara lain buku kisah hidup mereka yang menginspirasi “Kembali Berdetak” , boardgame untuk keluarga dan anak-anak, juga sketsa video kartun yang tujuannya membangun karakter anak. Buat yang punya anak atau adik yang masih kecil, bisa lihat dan download di www.anakdetak.com , dijamin ini alternative bagus banget buat mereka daripada nonton sembarangan dari youtube yang gak jelas. Selain itu saat ini mereka sedang aktif memberikan training dengan judul “Naskah Hidupku” yang intinya adalah bagaimana seseorang dapat menuangkan kisah hidupnya dalam sebuah buku, yang nantinya akan menjadi warisan nilai-nilai hidup untuk dikisahkan dan diteruskan oleh anak cucu dan generasi selanjutnya. Segala kelemahan dan kegagalan di masa lalu, yang akan menjadi kekuatan, keberanian, dan keberhasilan di masa datang. Menarik sekali!

kembali berdetak

boardgame

Ngomong-ngomong, yang saya mau cerita di sini adalah, bagaimana kebersamaan kami sepanjang hari bersama mereka yang betul-betul berkualitas, padahal isinya adalah, makan-makan, makan-makan, dan makan-makan, hahaha..

Pagi hari jam 8.30 saya menjemput mereka di stasiun kereta api. Kedatangan mereka kali ini adalah untuk khusus untuk membahas calon karya terbaru mereka, yaitu edu game, yang rencananya akan dibuat bersama dengan tim suami saya. Kali ini pesanan datang dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak.

Pagi hari, setelah sarapan nasi kuning, kami habiskan waktu untuk berdiskusi mengenai konsep bagaimana game tersebut akan dibuat. Diskusi berlangsung seru karena kami juga mencoba game-game di mobile phone dan tablet, yang ternyata walau sederhana, bisa bikin orang ketagihan. Pantes aja anak-anak banyak yang gak bisa stop main gadget. Sayangnya, gak banyak game-game yang betul-betul mendidik atau mengajarkan nilai-nilai dan karakter yang baik kepada orang-orang.

Philip dan Julie saat ini sedang terus berfokus untuk menghasilkan karya yang dapat membangun karakter anak. Saya pribadi sangat mendukung apa yang mereka sedang kerjakan. Oya, btw, saya dan suami pernah berberapa kali berkesempatan bertemu dan bekerja sama dengan penulis, pembicara, motivator, dan trainer. Tapi terus terang, menurut pendapat saya pribadi,  ternyata tidak banyak di antara mereka yang sungguh-sungguh punya motivasi untuk membangun orang lain atau yang memiliki nilai-nilai luhur yang mereka lakukan dalam kehidupannya. Yang saya rasakan (gak tau bener tau saya salah menilai), sepertinya kebanyakan masih berfokus pada materi, popularitas, dan pengakuan diri. Upps, sorry kalo hal ini menyinggung, tapi begitulah apa yang saya rasakan. Memang mereka membagikan kisah sukses hidup mereka, mereka juga orang-orang yang luar biasa di bidangnya, yang pandai membagikan ilmu dan semangatnya kepada orang banyak. Tapi entah kenapa, semakin mengenal mereka, saya kadang merasa jadi ilfeel hehehe ( sorry banget ini mah),  eh, bukan sih, hanya merasa sangat menyayangkan saja, seharusnya mereka bisa jadi orang-orang yang luar biasa yang bisa memberkati banyak orang dengan kemampuan mereka itu, yaaahhh.. tapi mungkin pemenuhan kebutuhan hidup masih jadi penuntut utama mereka dalam berkarya.

Nah, dengan Philip dan Julie ini, setiap kali kami bertemu, saya selalu tertular semangat dan kegembiraan mereka. Berbeda dengan orang lain, kami gak cuma sekedar mendengar teori-teori, semboyan-semboyan, metoda-metoda yang kebanyakan orang lain bicarakan kepada saya (kadang malah bikin otak jadi panas), tapi mereka dengan santai bercerita tentang pengalaman hidup mereka, yang kebanyakan bikin kami ngakak sama-sama. Yang selalu saya tangkap dari kisah-kisah mereka adalah, bagaimana mereka yang tidak ada apa-apanya, bukan siapa-siapa, selalu akhirnya karena kebaikan dan kemurahan Tuhan, berkesempatan melakukan sesuatu yang hasilnya luar biasa dan memberkati banyak orang. Tidak ada unsur kesombongan, tidak ada unsur menunjukkan kehebatan, kepandaian, kemampuan diri mereka sendiri ( seperti yang biasanya mau ditunjukkan oleh para pembicara untuk “menjual” dirinya), tapi ujung-ujungnya semua adalah karena pertolongan Tuhan, ketika mereka melakukan sesuatu hal yang benar di mata Tuhan, that’s so amazing.

Salah satu kisah yang gak bisa saya lupakan waktu pertemuan sebelum ini adalah, bagaimana ketika Philip menjadi pimpinan proyek yang dipercayakan oleh UNICEF. Ketika itu Philip membawahi tim dengan orang-orang yang luar biasa di dalamnya, mereka yang bergelar S1, S2,  dengan keahlian di bidang masing-masing.  Waktu UNICEF sedang melengkapi data-data pribadi tim tsb, selalu pada akhirnya mereka mengembalikan dengan alasan data belum diisi dengan lengkap. Sampai kemudian karena bingung bolak balik dimintai kelengkapan data, mereka tanya, data apa yang belum lengkap. Ternyata data pendidikan Philip, karena dia menulis pendidikan hanya sampai SMP nya saja. Dan memang sesuai kenyataan, kalo Philip hanya lulus sekolah sampe SMP saja karena kondisi keluarga yang tidak memungkinkan beliau lanjut sekolah. Wow, bayangkan, lulusan SMP yang jadi PimPro, pantes aja mereka bingung karena hasil kerja tim yang luar biasa. Bravo Bro!

Tapi gara-gara itu juga, pernah ada katanya pengalaman yang engga menyenangkan. Ada proyek yang sudah selesai, sudah di-approved, tinggal menunggu pembayaran. Waktu mereka tahu kalo Philip ternyata lulusan SMP, mereka menolak membayar, dengan alasan tidak sesuai dengan kualifikasi karena persyaratan yang tertera dalam prosedur mereka adalah minimal lulusan S1. Apanya yang gak masuk kualifikasi? Sementara hasilnya sesuai ekspetasi, sudah di-approved pula. Ada-ada aja. Tapi kembali Philip menanggapinya dengan santai. Karena memang toh tujuan utamanya adalah berkarya yang bisa membangun banyak orang. Soal uang itu adalah bonus yang mereka terima dari orang-orang yang menghargainya.

Oya, dari sekian banyak hal yang membuat saya kagum pada pasangan ini, sebenarnya ada satu hal yang betul-betul membuat saya “jealous” yaitu kekompakan mereka sebagai suami istri. Saya sering baca dan sudah tahu bahwa KESEPAKATAN adalah suatu hal yang sangat powerful, karena dengan kata sepakat itu, sesungguhnya kita bisa mencapai apa saja yang kita rencanakan. Dan hal ini terlihat jelas dari kehidupan pasangan ini. Sepertinya apapun yang mereka kerjakan itu selalu berhasil karena diawali dengan kata sepakat dan terlihat dari cara hidup mereka yang selalu kompak dan saling mengisi kekurangan masing-masing. Again, that’s amazing bro & sis.

Akhir kata, saya percaya keberadaan mereka di Indonesia ini, akan membawa dampak yang luar biasa, yang akan membawa semangat perubahan bagi generasi yang ada sekarang ini, dan mempersiapkan generasi yang akan datang dengan karakter yang sungguh-sungguh dibangun dengan nilai-nilai kebenaran.

Selamat dan sukses terus Bro Phlip dan Sis Julie, Tuhan beserta kalian selalu.

Share this post

Share on facebook
Share on twitter
Share on pinterest

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Blog

Pasangan Hidup

Manusia (M) : Tuhan, kenapa sampe sekarang aku belum ketemu jodoh? Tuhan (T) : Karena kamu belum pernah minta kepadaKu M : Kalo gitu aku

Read More »